

















Study with the several resources on Docsity
Earn points by helping other students or get them with a premium plan
Prepare for your exams
Study with the several resources on Docsity
Earn points to download
Earn points by helping other students or get them with a premium plan
About Javanese Tantric Meditation, this document made in Indonesian language, but you can translate this document to your language. Happy reading!
Typology: Study Guides, Projects, Research
1 / 25
This page cannot be seen from the preview
Don't miss anything!


















Oleh : KRT. Sastrasasangka (Ki Ajar Jawadipa) TIGA JALAN UTAMA MENCAPAI TUHAN (MANÊMBAH, MAMUJA DAN MANÊKUNG) Tuhan tidak bisa disembah. Demikian menurut pemahaman manusia Jawadīpa seturut jejak-jejak pemikiran mereka yang bisa didapat dalam rontal dan sêrat Jawa. Manusia Jawadīpa memiliki alasan kuat berpandangan seperti itu. Tuhan adalah sesuatu yang melampaui pikiran, tidak bisa digambarkan, Maha Abstrak, terlalu lembut dari apapun yang paling lembut, dan karenanya Tuhan sama sekali tidak bisa disembah dengan cara apapun juga, baik dengan cara mempersembahkan sesajian, mantra, gerak badan khusus maupun dengan kebaktian model apapun. Namun demikian. Tuhan yang Maha Abstrak ini menjiwai seluruh makhluk hidup dan semesta. Dia adalah inti sari, esensi, jatidiri, pusat, akar dari kehidupan itu sendiri. Dia adalah Sanghyang Urip atau Sang Hidup. Di dalam diriku ada Sanghyang Urip. Di dalam diri Anda ada Sanghyang Urip. Sehingga bisa dikatakan bahwasanya kita semua adalah perwujudan dari Sanghyang Urip itu sendiri. Jika kita berbicara perwujudan Sanghyang Urip akan didapatkan perwujudan mulai dari yang rendah, menengah sampai tinggi. Dari yang nistha, madhya hingga utama. Makhluk bersel satu adalah contoh perwujudan nistha atau rendah. Spesies manusia termasuk perwujudan madhya atau menengah dan Bhaṭara Trimūrti (Bhaṭara Brahma, Bhaṭara Wiṣṇu, Bhaṭara Śiwa) serta beberapa Dewata yang memiliki tingkat kesucian tinggi merupakan perwujudan utama. Bhaṭara Trimūrti (Bhaṭara Brahma, Bhaṭara Wiṣṇu, Bhaṭara Śiwa) serta beberapa Dewata yang memiliki tingkat kesucian tinggi sesungguhnya pada masa lalu juga merupakan makhluk biasa yang telah berusaha keras untuk mencapai tingkat kesucian dengan lelaku bathin penuh perjuangan melalui berjuta-juta kelahiran. Karena kesucian yang berhasil diperoleh, pada masa sekarang mereka terlahirkan sebagai perwujudan utama Sanghyang Urip. Itu artinya, maya (tabir ilusi) yang menakupi bathin mereka tinggal setipis kelambu sutra. Sehingga selangkah lagi dapat dipastikan mereka akan melebur seutuhnya dengan Sanghyang Urip, lenyap dalam kebahagiaan abadi, mencapai kesempurnaan mutlak.
Bagi manusia untuk menggapai Sanghyang Urip atau Tuhan Yang Sejati terdapat tiga jalan :
Bhaṭara Wiṣṇu, Candi Prambanan, Yogyakarta
Bhaṭara Śiwa, Candi Prambanan, Yogyakarta Trimūrti adalah perwujudan Tuhan dalam artian Tuhan sendiri mewujud sebagai Bhaṭara Brahmā, Bhaṭara Wiṣṇu dan Bhaṭara Śiwa, itu tidak ditemui dalam Weda. Entah semenjak kapan pemahaman itu berkembang. Kita akan dengan mudah menemui banyak kontradiksi dalam doktrin ini. Bagaimana mungkin mereka yang sama-sama perwujudan Tuhan sering kali terjadi silang sengketa? Tuhan bingung? Silang sengketa akan terjadi diantara person yang berbeda, bukan terjadi dalam satu person yang sama. Dan silang sengketa kerap terjadi karena salah satu person memiliki kesadaran lebih rendah dari yang lain. Leluhur Nusantara tidak mengenal akan itu. Dan dengan jelas leluhur Nusantara menempatkan Bhaṭara Śiwa lebih unggul daripada Bhaṭara Brahmā dan Bhaṭara Wiṣṇu, sehingga Bhaṭara Śiwa dijuluki sebagai Bhaṭara Guruning Guru (Tuan Yang Mulia sebagai Guru dari semua guru), Bhaṭara Jagatnātha (Tuan Yang Mulia sebagai Raja Semesta), dll. Pencapaian Bhaṭara Śiwa ini dengan jelas digambarkan bisa pula dicapai oleh manusia biasa, sebagaimana tuturan rontal Sanghyang Nawaruci, dimana sosok Rahadyan Wṛkodhara mampu mencapai kedudukan bathin yang sama bahkan jauh melampaui Bhaṭara Śiwa.
melakukan proses sama. Sehingga karena ketekunan mereka, pada kelahiran sekarang mereka terlahirkan kembali menjadi sosok Trimūrti. Dalam tingkatan kesadaran mereka sendiri, mereka juga masih harus berjuang untuk melebur sepenuhnya dengan Sanghyang Urip. Jika mereka kurang lelaku, maka pada kelahiran berikutnya mereka bisa turun menjadi Dewata level rendah. Pemahaman menyekutukan Tuhan tidak dikenal dalam pandangan Jawa Kuno. Karena sejatinya tidak ada yang bisa disejajarkan dengan Tuhan. Tuhan sendiri tidak pernah merasa terusik dengan penyembahan kepada Dewa-Dewa semacam itu. Mengingat Tuan tidak bisa disembah, tidak minta disembah, tidak butuh disembah. Tuhan adalah sempurna sehingga tidak akan mungkin merasa disekutukan, disaingi atau diduakan. Yang butuh disembah dan masih merasa tersaingi, merasa diduakan, artinya dia masih berkekurangan, yaitu kekurangan pengakuan. Dan yang masih kekurangan artinya belum sempurna dan bukanlah Tuhan Yang Sejati. Dewa-dewa di bawah Trimūrti adalah mereka yang dikenali sebagai para malaikat dalam keyakinan Samawi. Adapun sosok Tuhan dalam agama Samawi, silakan diraba sendiri. Dalam tahap laku Manêmbah, diperlukan piranti untuk menjalankan proses Manêmbah itu sendiri. Banyak metode yang dipakai dalam berbagai disiplin lelaku setiap keyakinan. Ini wajar karena setiap Dewata yang dihaturi sembah memiliki kecenderungan dan kesenangan berbeda- beda. Ada yang memakai sarana rumit, ada pula yang memakai sarana sederhana. Metode yang dipakai oleh leluhur kita adalah metode yang melibatkan Mandala, Yantra, Mantra dan Mudra. Sedikit rumit tapi mengena kepada segala aspek bhuwana alit maupun bhuwana agung. Adapun penjelasan masig-masing bagan adalah sebagai berikut : Mandala Mandala adalah gambaran dari semesta. Secara harfiah mandala artinya adalah lingkaran. Mandala ini terkait dengan kosmologi kuno yang menjadikan Gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta. Tentu saja gunung ini tidak bisa dicari di bumi manusia. Gunung ini terdapat di alam niskala. Dimana dasarnya berada di alam paling bawah, alam Ḍêngên yang bersentuhan langsung dengan api maha besar : Kalāgnirudra. Dan puncaknya berada di alam paling atas, alam Hyang atau alam Para Dewata. Saat berlangsungnya laku Manêmbah, para pelaku penyembahan harus menyusun ulang mandala ini baik secara nyata ataupun visual. Mandala sesungguhnya adalah bentuk yantra yang paling rumit. Penjelasan tentang Yantra akan diketengahkan kemudian. Berwujud dalam aneka rupa bentuk dan bersifat artisitik dan digunakan sebagai alat bantu untuk meditasi. Sebuah mandala terdiri dari satu pusat titik, garis- garis dan lingkaran-lingkaran yang diletakkan secara geometrik di sekeliling lingkaran. Pusatnya biasanya adalah sebuah windu atau titik.
Contoh Mandala Yantra. Yantra adalah sebuah bentuk geometrik. Bentuk yantra yang paling sederhana adalah sebuah windu atau titik atau segi tiga terbalik. Ada bentuk yantra yang sederhana, ada juga yantra yang bentuknya sangat rumit, simetris maupun non-simetris. Semua bentuk-bentuk ini didasarkan atas bentuk-bentuk matematika dan metode-metode tertentu. Yantra tersebut dipergunakan untuk melambangkan para Dewa seperti Bhaṭara Śiwa, Bhaṭara Wiṣṇu, Bhaṭara Gaṇeśa, dan yang lainnya termasuk Bhatari Tri Śakti yaitu Bhatari Saraswati, Bhatari Lakṣmi dan Bhatari Parwati. Mantra dan Yantra saling terkait. Penjelasan tentang mantra akan diberikan pada bagian selanjutnya. Pikiran dalam bentuk halus adalah bentuk asli mantra, dan pikiran yang sama dalam bentuk kasar dan dituangkan dalam gambar, adalah yantra. Ada lebih dari sembilan ratus yantra. Salah satu dari yantra terpenting adalah Śri Yantra, atau Nawayoni Chakra, melambangkan Śiwa dan Śakti.
Contoh bantên Selain bantên, yantra juga diwujudkan dalam bentuk rêrajahan tertentu. Fungsinya sama dengan bantên.
Setiap yantra baik dari segi bentuk maupun goresan yang tertera pada yantra tersebut mempunyai arti yang berbeda serta tujuan yang berbeda pula. Karenanya yantra mempunyai tujuan dan manfaat yang berbeda. Sebaiknya yantra diusahakan selalu dekat dengan si pemakai, dengan kedekatan tersebut maka energi yang ada dalam yantra dan energi si pemakai menjadi saling menyesuaikan. Yantra dapat diibaratkan sebagai polaritas energi positif yang secara terus menerus mempengaruhi si pemakainya sehingga dalam waktu singkat fungsi yantra yang dikenakan dapat dirasakan manfaatnya atau hasilnya. Mantra/Mel Pikiran dalam bentuk halus adalah bentuk asli dari mantra, pikiran yang sama dalam bentuk kasar dan dituangkan dalam gambar adalah yantra. Dengan kata lain, mantra adalah pola-pola energi halus pikiran yang diwujudkan dalam bentuk selain gambar, yaitu diwujudkan dalam bentuk kata dan kalimat tertentu. Fungsinya sama dengan yantra. Contoh mantra : Om sêmbah ning anatha tinghalana de trilokasarana wahya dhyatmika sêmbah inghulun ijêng ta tan hana waneh sang lwir agni sakeng tahên kadi minyak sakeng dadhi kita sang saksat mêtu yan hana wwang amutêr tutur pinahayu wyapi-wyapaka sari ning parama tattwa durlabha kita icchantang hana tan hana ganal-alit lawan hala-hayu utpatti-sthiti-lina ning dadhi kita ta karana-nika sang sangkan paraning sarat sakala-niskalatmaka kita Pada level lebih tinggi adalah menempatkan bija mantra atau benih mantra pada titik organ tertentu pada tubuh seperti contoh di bawah ini SA-kara ring papusuh nga, wetan, rupanya putih. BA-kara ring ati nga, kidul, rupanya abang. TA-kara ring ungsilan nga, kulon, rupanya kuning. A-kara ring utara nga, ring ampru, rupanya hirêng, I-kara ring witing ati nga, rupanya mancawarna. Malih NA-kara ring paparu nga, kêlod kangin, rupanya ḍaḍu. MA-kara ring urung-urung gaḍing, nga, ne rupanya kwanta. ŚI-kara ring bayabya nga, ring limpa, rupanya wilis. WA-kara ring inêban nga, ersanya, rupanya pêlung. YA-kara ring tungtunging ati nga, ma, rupanya amancawarna. Terjemahan : SA-kara d ijantung, timur, warnanya putih. BA-kara di hati, selatan, warnanya merah. TA-kara di ginjal, barat, warnanya kuning. A-kara di utara, di empedu, warnanya hitam, I-kara di akar hati, tengah, warnanya beraneka warna. Lagi NA-kara diparu-paru, tenggara, wanannya merah muda. MA-kara di usus, barat daya, warnanya jingga. ŚI-kara
Kṣiti Garba Mudra Agama Śiwa, Wiṣṇu, Brahma, Śakta, Indra, Sambu,dsb, mengambil jalan pertama ini. Kebanyakan agama-agama di dunia mengambil jalan pertama walau kadang pengikutnya tidak menyadari sepenuhnya dan menganggap Dewata sesembahan mereka adalah Tuhan satu-satunya yang benar melebihi Tuhan dari keyakinan lain. Pada titik ini pangkal pertikaian bermula.
(Ratnasangbawa), Maha Pikiran (Amitābha ) dan Maha Ingatan (Amogasiddhi). Bukan pribadi, bukan Dewata, bukan sosok tertentu yang mendiami surga tertentu. Dalam Buddha Mahayana dan Tantrayana diyakini cenderung sebagai sosok Dewata yang lebih tinggi dari Brahma. Pribadi- pribadi terpisah yang menempati surga tertentu. Skema dibawah ini bisa sedikit mempermudah :
Bhaṭara Buddha Werocana berada di tengah, dengan Mudra : Dharma Cakra Bhaṭara Buddha Akṣobya berada di timur, dengan Mudra : Bhumi Sparsa
Bhaṭara Buddha Amogasiddhi berada di utara, dengan Mudra : Abhaya Mamuja Para Bhaṭara Panca Tathagata Buddha sebenarnya memuja unsur-unsur Ruh manusia itu sendiri, yang dipersonifikasikan sebagai sosok-sosok Bhaṭara Panca Tathagata Buddha. Sosok-sosok ini tidak eksis di luar diri manusia, melainkan merupakan bagian luhur yang tak terpisahkan dari Ruh manusia itu sendiri. Mereka sebenarnya adalah bagian dari Ruh manusia dimunculkan sebagai alat bantu devosi untuk mencapai Kebuddhaan atau Yang Mutlak itu sendiri. Tata cara mempergunakan Mandala, Yantra, Mantra dan Mudra juga dipergunakan. Tapi proyeksinya masuk ke dalam diri, bukan lagi ke luar diri. Jika dengan cara manêmbah maka penyembahan kepada Dewata dilakukan demi untuk terhubung dengan Sanghyang Urip, maka dengan cara mamuja, penyembahan kepada unsur-unsur Ruh manusia sendiri dilakukan dengan tujuan sama, untuk terhubung dengan Ruh manusi itu sendiri. Dan Ruh adalah bagian tak terpisahkan dari Sanghyang Urip. Sebagaimana lelaku manêmbah, pembangkitan daya ilahi yang ada dalam diri dalam laku mamuja bisa dengan menempatkan bija mantra atau benih mantra pada Ruh kita sendiri, sebagaimana berikut :