Ancient Javanese Meditation (Tantra), Study Guides, Projects, Research of History

About Javanese Tantric Meditation, this document made in Indonesian language, but you can translate this document to your language. Happy reading!

Typology: Study Guides, Projects, Research

2022/2023

Available from 03/03/2023

NoordinMtop
NoordinMtop 🇮🇩

5 documents

1 / 25

Toggle sidebar

This page cannot be seen from the preview

Don't miss anything!

bg1
MATERI ZOOM MEETING
BIMBINGAN CANTRIK PATÊMBAYAN JAWADIPA : WÊDARAN MANÊMBAH DAN
MAMUJA. SERTA TATA CARA MANÊKUNG
28 DESEMBER 2022
Oleh : KRT. Sastrasasangka (Ki Ajar Jawadipa)
TIGA JALAN UTAMA MENCAPAI TUHAN (MANÊMBAH, MAMUJA DAN MANÊKUNG)
Tuhan tidak bisa disembah. Demikian menurut pemahaman manusia Jawadīpa seturut
jejak-jejak pemikiran mereka yang bisa didapat dalam rontal dan sêrat Jawa. Manusia Jawadīpa
memiliki alasan kuat berpandangan seperti itu. Tuhan adalah sesuatu yang melampaui pikiran,
tidak bisa digambarkan, Maha Abstrak, terlalu lembut dari apapun yang paling lembut, dan
karenanya Tuhan sama sekali tidak bisa disembah dengan cara apapun juga, baik dengan cara
mempersembahkan sesajian, mantra, gerak badan khusus maupun dengan kebaktian model
apapun.
Namun demikian. Tuhan yang Maha Abstrak ini menjiwai seluruh makhluk hidup dan
semesta. Dia adalah inti sari, esensi, jatidiri, pusat, akar dari kehidupan itu sendiri. Dia adalah
Sanghyang Urip atau Sang Hidup. Di dalam diriku ada Sanghyang Urip. Di dalam diri Anda ada
Sanghyang Urip. Sehingga bisa dikatakan bahwasanya kita semua adalah perwujudan dari
Sanghyang Urip itu sendiri.
Jika kita berbicara perwujudan Sanghyang Urip akan didapatkan perwujudan mulai dari
yang rendah, menengah sampai tinggi. Dari yang nistha, madhya hingga utama. Makhluk bersel
satu adalah contoh perwujudan nistha atau rendah. Spesies manusia termasuk perwujudan madhya
atau menengah dan Bhaṭara Trimūrti (Bhaara Brahma, Bhaara Wiṣṇu, Bhaṭara Śiwa) serta
beberapa Dewata yang memiliki tingkat kesucian tinggi merupakan perwujudan utama.
Bhaara Trimūrti (Bhaara Brahma, Bhaara Wiṣṇu, Bhaṭara Śiwa) serta beberapa Dewata
yang memiliki tingkat kesucian tinggi sesungguhnya pada masa lalu juga merupakan makhluk
biasa yang telah berusaha keras untuk mencapai tingkat kesucian dengan lelaku bathin penuh
perjuangan melalui berjuta-juta kelahiran. Karena kesucian yang berhasil diperoleh, pada masa
sekarang mereka terlahirkan sebagai perwujudan utama Sanghyang Urip. Itu artinya, maya (tabir
ilusi) yang menakupi bathin mereka tinggal setipis kelambu sutra. Sehingga selangkah lagi dapat
dipastikan mereka akan melebur seutuhnya dengan Sanghyang Urip, lenyap dalam kebahagiaan
abadi, mencapai kesempurnaan mutlak.
pf3
pf4
pf5
pf8
pf9
pfa
pfd
pfe
pff
pf12
pf13
pf14
pf15
pf16
pf17
pf18
pf19

Partial preview of the text

Download Ancient Javanese Meditation (Tantra) and more Study Guides, Projects, Research History in PDF only on Docsity!

MATERI ZOOM MEETING

BIMBINGAN CANTRIK PATÊMBAYAN JAWADIPA : WÊDARAN MANÊMBAH DAN

MAMUJA. SERTA TATA CARA MANÊKUNG

28 DESEMBER 2022

Oleh : KRT. Sastrasasangka (Ki Ajar Jawadipa) TIGA JALAN UTAMA MENCAPAI TUHAN (MANÊMBAH, MAMUJA DAN MANÊKUNG) Tuhan tidak bisa disembah. Demikian menurut pemahaman manusia Jawadīpa seturut jejak-jejak pemikiran mereka yang bisa didapat dalam rontal dan sêrat Jawa. Manusia Jawadīpa memiliki alasan kuat berpandangan seperti itu. Tuhan adalah sesuatu yang melampaui pikiran, tidak bisa digambarkan, Maha Abstrak, terlalu lembut dari apapun yang paling lembut, dan karenanya Tuhan sama sekali tidak bisa disembah dengan cara apapun juga, baik dengan cara mempersembahkan sesajian, mantra, gerak badan khusus maupun dengan kebaktian model apapun. Namun demikian. Tuhan yang Maha Abstrak ini menjiwai seluruh makhluk hidup dan semesta. Dia adalah inti sari, esensi, jatidiri, pusat, akar dari kehidupan itu sendiri. Dia adalah Sanghyang Urip atau Sang Hidup. Di dalam diriku ada Sanghyang Urip. Di dalam diri Anda ada Sanghyang Urip. Sehingga bisa dikatakan bahwasanya kita semua adalah perwujudan dari Sanghyang Urip itu sendiri. Jika kita berbicara perwujudan Sanghyang Urip akan didapatkan perwujudan mulai dari yang rendah, menengah sampai tinggi. Dari yang nistha, madhya hingga utama. Makhluk bersel satu adalah contoh perwujudan nistha atau rendah. Spesies manusia termasuk perwujudan madhya atau menengah dan Bhaṭara Trimūrti (Bhaṭara Brahma, Bhaṭara Wiṣṇu, Bhaṭara Śiwa) serta beberapa Dewata yang memiliki tingkat kesucian tinggi merupakan perwujudan utama. Bhaṭara Trimūrti (Bhaṭara Brahma, Bhaṭara Wiṣṇu, Bhaṭara Śiwa) serta beberapa Dewata yang memiliki tingkat kesucian tinggi sesungguhnya pada masa lalu juga merupakan makhluk biasa yang telah berusaha keras untuk mencapai tingkat kesucian dengan lelaku bathin penuh perjuangan melalui berjuta-juta kelahiran. Karena kesucian yang berhasil diperoleh, pada masa sekarang mereka terlahirkan sebagai perwujudan utama Sanghyang Urip. Itu artinya, maya (tabir ilusi) yang menakupi bathin mereka tinggal setipis kelambu sutra. Sehingga selangkah lagi dapat dipastikan mereka akan melebur seutuhnya dengan Sanghyang Urip, lenyap dalam kebahagiaan abadi, mencapai kesempurnaan mutlak.

Bagi manusia untuk menggapai Sanghyang Urip atau Tuhan Yang Sejati terdapat tiga jalan :

  1. MANÊMBAH (Jalan Keluar Diri) : Yaitu menyembah perwujudan utama Sanghyang Urip, yaitu Bhaṭara Trimūrti (Bhaṭara Brahma, Bhaṭara Wiṣṇu, Bhaṭara Śiwa) serta beberapa Dewata yang memiliki tingkat kesucian tinggi dengan tujuan untuk menjadi dekat dengan mereka, yang tinggal selangkah lagi lebur kepada Sanghyang Urip. Dengan adanya kedekatan tersebut, sang penyembah akan mendapat bimbingan atau tuntunan dari Bhaṭara Trimūrti (Bhaṭara Brahma, Bhaṭara Wiṣṇu, Bhaṭara Śiwa) serta beberapa Dewata yang memiliki tingkat kesucian tinggi. Yaitu bimbingan untuk meraih kesucian sebagaimana diri mereka dan mengarahkan secara bertahap kepada jalan penyatuan dengan Sanghyang Urip. Ketika seorang pelaku Manêmbah dengan sepenuh kebaktian mempersembahkan doa, mantra dan sesajian yang dipersembahkan kepada sosok Dewata pujaannya, maka Sang Dewata akan menjadi pembimbing dan pelindungnya. Kedekatan Sang Dewata dengan Sang Penyembah memungkinkan getaran suci dari Sang Dewata akan merubah secara perlahan getaran Sang Penyembah menjadi sepadan dan meningkat sehingga menjadi satu frekwensi dengan getaran Sang Dewata. Dengan peningkatan getaran Sang Penyembah maka memungkinkan peningkatan kesadaran juga terjadi. Tentu saja peningkatan kesadaran yang dimiliki sesuai dengan kesadaran dari Dewata yang disembah. Dewata pilihan seperti ini kerap disebut Ista Dewata. Dan setiap Dewata pun memiliki tingkatan yang berbeda. Ada yang memiliki kesucian kesadaran nisṭa atau rendah, kesucian kesadaran menengah atau madya dan kesucian kesadaran atas atau utama. Bhaṭara Trimūrti (Bhaṭara Brahma, Bhaṭara Wiṣṇu, Bhaṭara Śiwa) tergolong memiliki tingkat kesucian kesadaran utama. Namun walaupun tergolong utama, ketiganya juga memiliki corak yang berbeda-beda sesuai unsur alam yang diawasi oleh mereka. Bhaṭara Brahma cenderung intelek, dinamis dan suka berkarya. Bhaṭara Wiṣṇu cenderung dewasa, penuh kebijaksanaan, penyeimbang, penganugerah kemakmuran dan Bhaṭara Śiwa cenderung agresif, penghancur segala hal negatif. Permaisuri mereka yaitu Bhatari Saraswati, Bhatari Lakṣmi dan Bhatari Parwati adalah pendamping mereka yang menjadi cadangan energi, penguat dan penyokong Bhaṭara Brahma, Bhaṭara Wiṣṇu, Bhaṭara Śiwa. Bhatari Saraswati menjadi penyokong energi Bhaṭara Brahma, Bhatari Lakṣmi menjadi penyokong energi Bhaṭara Wiṣṇu dan Bhatari Parwati menjadi penyokong energi Bhaṭara Śiwa. Oleh karenanya mereka ini kerap disebut sebagai Śakti atau Power

Bhaṭara Wiṣṇu, Candi Prambanan, Yogyakarta

Bhaṭara Śiwa, Candi Prambanan, Yogyakarta Trimūrti adalah perwujudan Tuhan dalam artian Tuhan sendiri mewujud sebagai Bhaṭara Brahmā, Bhaṭara Wiṣṇu dan Bhaṭara Śiwa, itu tidak ditemui dalam Weda. Entah semenjak kapan pemahaman itu berkembang. Kita akan dengan mudah menemui banyak kontradiksi dalam doktrin ini. Bagaimana mungkin mereka yang sama-sama perwujudan Tuhan sering kali terjadi silang sengketa? Tuhan bingung? Silang sengketa akan terjadi diantara person yang berbeda, bukan terjadi dalam satu person yang sama. Dan silang sengketa kerap terjadi karena salah satu person memiliki kesadaran lebih rendah dari yang lain. Leluhur Nusantara tidak mengenal akan itu. Dan dengan jelas leluhur Nusantara menempatkan Bhaṭara Śiwa lebih unggul daripada Bhaṭara Brahmā dan Bhaṭara Wiṣṇu, sehingga Bhaṭara Śiwa dijuluki sebagai Bhaṭara Guruning Guru (Tuan Yang Mulia sebagai Guru dari semua guru), Bhaṭara Jagatnātha (Tuan Yang Mulia sebagai Raja Semesta), dll. Pencapaian Bhaṭara Śiwa ini dengan jelas digambarkan bisa pula dicapai oleh manusia biasa, sebagaimana tuturan rontal Sanghyang Nawaruci, dimana sosok Rahadyan Wṛkodhara mampu mencapai kedudukan bathin yang sama bahkan jauh melampaui Bhaṭara Śiwa.

melakukan proses sama. Sehingga karena ketekunan mereka, pada kelahiran sekarang mereka terlahirkan kembali menjadi sosok Trimūrti. Dalam tingkatan kesadaran mereka sendiri, mereka juga masih harus berjuang untuk melebur sepenuhnya dengan Sanghyang Urip. Jika mereka kurang lelaku, maka pada kelahiran berikutnya mereka bisa turun menjadi Dewata level rendah. Pemahaman menyekutukan Tuhan tidak dikenal dalam pandangan Jawa Kuno. Karena sejatinya tidak ada yang bisa disejajarkan dengan Tuhan. Tuhan sendiri tidak pernah merasa terusik dengan penyembahan kepada Dewa-Dewa semacam itu. Mengingat Tuan tidak bisa disembah, tidak minta disembah, tidak butuh disembah. Tuhan adalah sempurna sehingga tidak akan mungkin merasa disekutukan, disaingi atau diduakan. Yang butuh disembah dan masih merasa tersaingi, merasa diduakan, artinya dia masih berkekurangan, yaitu kekurangan pengakuan. Dan yang masih kekurangan artinya belum sempurna dan bukanlah Tuhan Yang Sejati. Dewa-dewa di bawah Trimūrti adalah mereka yang dikenali sebagai para malaikat dalam keyakinan Samawi. Adapun sosok Tuhan dalam agama Samawi, silakan diraba sendiri. Dalam tahap laku Manêmbah, diperlukan piranti untuk menjalankan proses Manêmbah itu sendiri. Banyak metode yang dipakai dalam berbagai disiplin lelaku setiap keyakinan. Ini wajar karena setiap Dewata yang dihaturi sembah memiliki kecenderungan dan kesenangan berbeda- beda. Ada yang memakai sarana rumit, ada pula yang memakai sarana sederhana. Metode yang dipakai oleh leluhur kita adalah metode yang melibatkan Mandala, Yantra, Mantra dan Mudra. Sedikit rumit tapi mengena kepada segala aspek bhuwana alit maupun bhuwana agung. Adapun penjelasan masig-masing bagan adalah sebagai berikut : Mandala Mandala adalah gambaran dari semesta. Secara harfiah mandala artinya adalah lingkaran. Mandala ini terkait dengan kosmologi kuno yang menjadikan Gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta. Tentu saja gunung ini tidak bisa dicari di bumi manusia. Gunung ini terdapat di alam niskala. Dimana dasarnya berada di alam paling bawah, alam Ḍêngên yang bersentuhan langsung dengan api maha besar : Kalāgnirudra. Dan puncaknya berada di alam paling atas, alam Hyang atau alam Para Dewata. Saat berlangsungnya laku Manêmbah, para pelaku penyembahan harus menyusun ulang mandala ini baik secara nyata ataupun visual. Mandala sesungguhnya adalah bentuk yantra yang paling rumit. Penjelasan tentang Yantra akan diketengahkan kemudian. Berwujud dalam aneka rupa bentuk dan bersifat artisitik dan digunakan sebagai alat bantu untuk meditasi. Sebuah mandala terdiri dari satu pusat titik, garis- garis dan lingkaran-lingkaran yang diletakkan secara geometrik di sekeliling lingkaran. Pusatnya biasanya adalah sebuah windu atau titik.

Contoh Mandala Yantra. Yantra adalah sebuah bentuk geometrik. Bentuk yantra yang paling sederhana adalah sebuah windu atau titik atau segi tiga terbalik. Ada bentuk yantra yang sederhana, ada juga yantra yang bentuknya sangat rumit, simetris maupun non-simetris. Semua bentuk-bentuk ini didasarkan atas bentuk-bentuk matematika dan metode-metode tertentu. Yantra tersebut dipergunakan untuk melambangkan para Dewa seperti Bhaṭara Śiwa, Bhaṭara Wiṣṇu, Bhaṭara Gaṇeśa, dan yang lainnya termasuk Bhatari Tri Śakti yaitu Bhatari Saraswati, Bhatari Lakṣmi dan Bhatari Parwati. Mantra dan Yantra saling terkait. Penjelasan tentang mantra akan diberikan pada bagian selanjutnya. Pikiran dalam bentuk halus adalah bentuk asli mantra, dan pikiran yang sama dalam bentuk kasar dan dituangkan dalam gambar, adalah yantra. Ada lebih dari sembilan ratus yantra. Salah satu dari yantra terpenting adalah Śri Yantra, atau Nawayoni Chakra, melambangkan Śiwa dan Śakti.

Contoh bantên Selain bantên, yantra juga diwujudkan dalam bentuk rêrajahan tertentu. Fungsinya sama dengan bantên.

Setiap yantra baik dari segi bentuk maupun goresan yang tertera pada yantra tersebut mempunyai arti yang berbeda serta tujuan yang berbeda pula. Karenanya yantra mempunyai tujuan dan manfaat yang berbeda. Sebaiknya yantra diusahakan selalu dekat dengan si pemakai, dengan kedekatan tersebut maka energi yang ada dalam yantra dan energi si pemakai menjadi saling menyesuaikan. Yantra dapat diibaratkan sebagai polaritas energi positif yang secara terus menerus mempengaruhi si pemakainya sehingga dalam waktu singkat fungsi yantra yang dikenakan dapat dirasakan manfaatnya atau hasilnya. Mantra/Mel Pikiran dalam bentuk halus adalah bentuk asli dari mantra, pikiran yang sama dalam bentuk kasar dan dituangkan dalam gambar adalah yantra. Dengan kata lain, mantra adalah pola-pola energi halus pikiran yang diwujudkan dalam bentuk selain gambar, yaitu diwujudkan dalam bentuk kata dan kalimat tertentu. Fungsinya sama dengan yantra. Contoh mantra : Om sêmbah ning anatha tinghalana de trilokasarana wahya dhyatmika sêmbah inghulun ijêng ta tan hana waneh sang lwir agni sakeng tahên kadi minyak sakeng dadhi kita sang saksat mêtu yan hana wwang amutêr tutur pinahayu wyapi-wyapaka sari ning parama tattwa durlabha kita icchantang hana tan hana ganal-alit lawan hala-hayu utpatti-sthiti-lina ning dadhi kita ta karana-nika sang sangkan paraning sarat sakala-niskalatmaka kita Pada level lebih tinggi adalah menempatkan bija mantra atau benih mantra pada titik organ tertentu pada tubuh seperti contoh di bawah ini SA-kara ring papusuh nga, wetan, rupanya putih. BA-kara ring ati nga, kidul, rupanya abang. TA-kara ring ungsilan nga, kulon, rupanya kuning. A-kara ring utara nga, ring ampru, rupanya hirêng, I-kara ring witing ati nga, rupanya mancawarna. Malih NA-kara ring paparu nga, kêlod kangin, rupanya ḍaḍu. MA-kara ring urung-urung gaḍing, nga, ne rupanya kwanta. ŚI-kara ring bayabya nga, ring limpa, rupanya wilis. WA-kara ring inêban nga, ersanya, rupanya pêlung. YA-kara ring tungtunging ati nga, ma, rupanya amancawarna. Terjemahan : SA-kara d ijantung, timur, warnanya putih. BA-kara di hati, selatan, warnanya merah. TA-kara di ginjal, barat, warnanya kuning. A-kara di utara, di empedu, warnanya hitam, I-kara di akar hati, tengah, warnanya beraneka warna. Lagi NA-kara diparu-paru, tenggara, wanannya merah muda. MA-kara di usus, barat daya, warnanya jingga. ŚI-kara

  1. WANG ditempatkan di Dubur
  2. YANG ditempatkan di Pusat Hati Dengan lelaku seperti ini maka diharapkan daya keilahian yang ada pada jagad agung bisa membangkitkan daya keilahian yang ada pada tubuh fisik maupun mental kita. Dengan daya keilahian tersebut kawisesan atau keaktian bisa didapatkan, dan yang terutama adalah kadyatmikan atau mendorong peningkatan kesadaran batin untuk meraih kesempurnaan sejati. Mudra/Patanganan Mudra adalah gestur atau sikap tubuh yang bersifat simbolis. Ada beberapa mudrā yang melibatkan seluruh anggota tubuh, akan tetapi kebanyakan hanya dilakukan dengan tangan dan jari. Fungsinya sama dengan yantra. Hanya saja pola-pola energi dimanipulasi dengan gerakan tangan tertentu. Contoh mudra/patanganan : Darma Cakra Mudra

Kṣiti Garba Mudra Agama Śiwa, Wiṣṇu, Brahma, Śakta, Indra, Sambu,dsb, mengambil jalan pertama ini. Kebanyakan agama-agama di dunia mengambil jalan pertama walau kadang pengikutnya tidak menyadari sepenuhnya dan menganggap Dewata sesembahan mereka adalah Tuhan satu-satunya yang benar melebihi Tuhan dari keyakinan lain. Pada titik ini pangkal pertikaian bermula.

  1. MAMUJA (Jalan Kedalam Diri Dengan Penyembahan) : Kebalikan dari laku manêmbah yang memproyeksikan pikiran ke luar, dengan cara mengundang Dewata tertentu agar hadir sehingga dengan kehadirannya bisa memicu vibrasi positif dan sehingga membangkitkan daya-daya Ilahi, mamuja mengarahkan pikiran ke dalam diri. Bukan sosok-sosok Dewata yang berpribadi yang dijadikan obyek sembah, melainkan unsur-unsur Ilahi yang ada di dalam diri sendiri yang dijadikan obyek sembah atau obyek melatih peningkatan batin. Itu artinya ada Daya Ilahi laten yang berdiam didalam tubuh fisik dan jiwa kita. Daya Ilahi laten yang bisa kita bangkitkan untuk mendorong peningkatan kesadaran batin kita menuju pencerahan. Lelaku yang popular dari laku mamuja adalah Kuṇḍalini Yoga. Yaitu membangkitkan cakra-cakra tubuh sehingga proses peningkatan kesadaran akan berjalan secara bertahap. Mulai dari cakra dasar, mūlādhāra hingga mencapai cakra tertinggi, sahasrāra. Pemujaan kepada Panca Dhyani Buddha atau Panca Tathagata sebenarnya masuk dalam kategori mamuja. Artinya tidak ada sosok-sosok pribadi Panca Dhyani Buddha di luar sana. Sepenuhnya adalah Keilahian yang tanpa wujud, abstrak dan tidak bisa dipersonalisasikan. Itu artinya Panca Dhyani Buddha bukan Dewata. Panca Dhyani Buddha adalah perwujudan Sanghyang Urip sendiri sebagai blue-print jiwa seluruh makhluk. Tidak ada Buddha-Buddha berpribadi di kahyangan. Tidak ada Buddha yang mendiami surga timur atau surga barat sebagaimana persepsi kebanyakan orang sekarang. Panca Dhyani Buddha murni Keilahian yang tanpa wujud. Tidak bertempat, tidak berkedudukan, tidak berupa, tidak berwarna, tidak ini dan tidak itu. Namun dari Panca Dhyani Buddha cetak biru jiwa makhluk berasal. Itu artinya Panca Dhyani Buddha meresap pada Semesta raya bahkan berada di dalam kedalaman jiwa kita yang terdalam. Memproyeksikan pikiran kepada Panca Dhyani Buddha tidak diperlukan proyeksi ke luar, melainkan masuk ke dalam diri. Panca Dhyani Buddha tersebut adalah Bhaṭara Werocana, Bhaṭara Akṣobya, Bhaṭara Ratnasangbawa, Bhaṭara Amitābha dan Bhaṭara Amogasiddhi. Konsep Panca Dhyani Buddha yang dipakai dalam Buddha Mahayana dan Tantrayana saya yakini berasal dari Nusantara Purba (Ataladwipa). Karena konsep tersebut tdk didapatkan dalam Tripitaka, kitab suci Agama Buddha itu sendiri. Yang tidak memakai konsep Panca Dhyani Buddha adalah Buddha Theravada.
  2. Bhaṭara Buddha Werocana berada di tengah, dengan Mudra : Dharma Cakra
  3. Bhaṭara Buddha Akṣobya berada di timur, dengan Mudra : Bhumi Sparsa

(Ratnasangbawa), Maha Pikiran (Amitābha ) dan Maha Ingatan (Amogasiddhi). Bukan pribadi, bukan Dewata, bukan sosok tertentu yang mendiami surga tertentu. Dalam Buddha Mahayana dan Tantrayana diyakini cenderung sebagai sosok Dewata yang lebih tinggi dari Brahma. Pribadi- pribadi terpisah yang menempati surga tertentu. Skema dibawah ini bisa sedikit mempermudah :

  1. Sanghyang Urip (Tak Terdefinisikan) -----------> mempersempit Diri menjadi Sanghyang Magawe Urip.
  2. Sanghyang Magawe Urip (Disinilah letak Panca Tathagata. Proses mempersempit Diri meniscayakan harus menciptakan blue print makhluk : Maha Ruh+Maha Kesadaran+Maha Perasaan+Maha Pikiran+Maha Ingatan) -----------------> menurun lagi mempersiapkan diri memercik menjadi Ruh setiap makhluk menjadi Sanghyang Hanguripi.
  3. Sanghyang Hanguripi (Cikal bakal Ruh seluruh makhkuk hidup). Adapun makna dari nama-nama Panca Dhyani Buddha adalah sebagai berikut :
  4. Bhaṭara Buddha Werocana artinya Yang Bersinar Cemerlang. Merujuk kepada Maha Ruh.
  5. Bhaṭara Buddha Akṣobya artinya Yang Tenang. Merujuk kepada Maha Kesadaran Yang Stabil.
  6. Bhaṭara Buddha Ratnasangbhawa artinya Yang Lahir Dari Permata. Permata adalah simbol dari kilauan darah. Merujuk kepada Maha Perasaan Yang Bergejolak.
  7. Bhaṭara Buddha Amitābha artinya Yang Terang. Merujuk kepada Maha Pikiran Yang Jernih.
  8. Bhaṭara Buddha Amogasiddhi artinya Keuntungan Kekal. Merujuk kepada Maha Ingatan sebagai gudang memori yang menjadi keuntungan sejati yang kekal. Konsep ini asli dari Nusantara. Karena menyambung dengan konsep Sadulur Papat Kalima Pancêr. Dan nama-nama yang tertulis diatas berasal dari Bahasa Sansekerta. Timbul pertanyaan, apakah Sansekerta bahasa yang berasal dari Nusantara? Sansekerta bukan berasal dari Nusantara, namun cikal-bakal bahasa Sansekerta berasal dari Nusantara Purba. Sebagai bahasa kelas atas. Bahasa ilmuwan. Sehingga bolehlah nama-nama Sansekerta itu kita pakai selama bahasa asli (cikal bakal Sansekerta) belum kita temukan kembali.

Bhaṭara Buddha Werocana berada di tengah, dengan Mudra : Dharma Cakra Bhaṭara Buddha Akṣobya berada di timur, dengan Mudra : Bhumi Sparsa

Bhaṭara Buddha Amogasiddhi berada di utara, dengan Mudra : Abhaya Mamuja Para Bhaṭara Panca Tathagata Buddha sebenarnya memuja unsur-unsur Ruh manusia itu sendiri, yang dipersonifikasikan sebagai sosok-sosok Bhaṭara Panca Tathagata Buddha. Sosok-sosok ini tidak eksis di luar diri manusia, melainkan merupakan bagian luhur yang tak terpisahkan dari Ruh manusia itu sendiri. Mereka sebenarnya adalah bagian dari Ruh manusia dimunculkan sebagai alat bantu devosi untuk mencapai Kebuddhaan atau Yang Mutlak itu sendiri. Tata cara mempergunakan Mandala, Yantra, Mantra dan Mudra juga dipergunakan. Tapi proyeksinya masuk ke dalam diri, bukan lagi ke luar diri. Jika dengan cara manêmbah maka penyembahan kepada Dewata dilakukan demi untuk terhubung dengan Sanghyang Urip, maka dengan cara mamuja, penyembahan kepada unsur-unsur Ruh manusia sendiri dilakukan dengan tujuan sama, untuk terhubung dengan Ruh manusi itu sendiri. Dan Ruh adalah bagian tak terpisahkan dari Sanghyang Urip. Sebagaimana lelaku manêmbah, pembangkitan daya ilahi yang ada dalam diri dalam laku mamuja bisa dengan menempatkan bija mantra atau benih mantra pada Ruh kita sendiri, sebagaimana berikut :

  1. Bhaṭara Buddha Werocana, dengan Mudra : Dharma Cakra, Bija Mantra : Om. Diproyeksikan kepada Ketakterbatasan Ruh kita sendiri.
  2. Bhaṭara Buddha Akṣobya, dengan Mudra : Bhumi Sêparsa. Bija Mantra : Hum. Diproyeksikan kepada Kesadaran Ruh kita sendiri.
  3. Bhaṭara Buddha Ratnasangbawa, dengan Mudra : Wara. Bija Mantra : Trah. Diproyeksikan kepada Perasaan Ruh kita sendiri.
  4. Bhaṭara Buddha Amitābha , dengan Mudra : Dhyana. Bija Mantra : Hrih. Diproyeksikan kepada Pikiran Ruh kita sendiri.
  5. Bhaṭara Buddha Amogasiddhi, dengan Mudra : Abhaya. Bija Mantra : Ah. Diproyeksikan kepada Ingatan Ruh kita sendiri.
  1. MANÊKUNG (Jalan Kedalam Diri Tanpa Penyembahan) : Jalan Manêkung adalah jalan lain yang tidak melakukan sembah kepada siapapun, baik kepada Dewata di luar diri maupun Panca Tathagata Buddha di dalam diri, sepenuhnya menjalani meditasi untuk mencari akar keheningan di dalam diri serta menebar kebaikan dan welas asih kepada sesama tanpa syarat. Jalan ketiga ini benar-benar tidak mengenal ritual penyembahan kepada Tuhan. Manêkung berhubungan erat dengan kondisi gelombang otak manusia. Adapun penggolongan gelombang otak pada manusia bisa disimak di bawah ini :
  2. Swapnapada atau Gelombang Gamma (16 hz - 100 hz) Swapnapada atau Gelombang Gamma merupakan gelombang terendah dalam hal amplitudo namun merupakan gelombang tercepat. Swapnapada atau Gelombang Gamma adalah gelombang otak yang berlaku saat seseorang mengalami aktivitas pikiran yang sangat tinggi. Seperti sedang berada di arena pertandingan, perebutan kejuaraan, tampil dimuka umum, panik, atau sedang ketakutan. Kondisi Swapnapada atau Gamma adalah kondisi kesadaran penuh. Sesuai penyelidikan Dr. Jeffrey D. Thompson (Center for Acoustic Research), di atas gelombang Gamma masih ada gelombang Hypergamma (tepat 100 Hz) dan gelombang Lambda (tepat 200 Hz), yang merupakan gelombang- gelombang supernatural atau berhubungan dengan kemampuan luar biasa. Swapnapada atau Gamma ini berhubungan dengan emosi Anda. Cinta yang emosional juga muncul saat gelombang Swapnapada atau Gamma mendominasi.
  3. Suptapada atau Gelombang Beta (12 hz - 19 hz) Suptapada atau Gelombang Beta adalah gelombang otak yang berlaku saat seseorang tengah mengalami aktivitas pikiran terjaga penuh. Suptapada atau Gelombang Beta muncul ketika tengah melakukan kegiatan sehari-hari, pada saat berinteraksi dengan orang lain. Suptapada atau Gelombang Beta merupakan keadaan pikiran saat sedang stabil. Suptapada atau Gelombang Beta diperlukan otak saat berpikir rasional, logis, memecahkan suatu masalah dan sejenisnya.
  4. Jagrapada atau Gelombang Alpha (8 hz - 12 hz) Jagrapada atau Gelombang Alpha adalah gelombang otak yang berlaku pada saat seseorang mengalami relaksaksi atau mulai istirahat dengan tanda-tanda mata mulai menutup atau mulai mengantuk. Jagrapada atau Gelombang Alpha muncul setiap hendak tidur, tepatnya masa peralihan antara sadar dan tidak sadar. Jagrapada atau Gelombang Alpha banyak