HASIL PENERAPAN
-Frustrasi
Semua siswa mengungkapkan rasa frustrasi di beberapa titik selama unit, tetapi lebih
banyak frustrasi dalam pelajaran yang berfokus pada teknik dibandingkan dengan pelajaran
yang berfokus pada sains (43 kali dalam teknik vs. 18 dalam sains). Baik siswa laki-laki
maupun perempuan menunjukkan rasa frustrasi yang diarahkan pada suatu tugas, dengan
21 kesempatan untuk siswa laki-laki dan 18 kesempatan untuk siswa perempuan.
-Peran kelompok
1. Pada pengambilan kendali materi (16 kali untuk siswa laki-laki dan 8 untuk siswa
perempuan).
2. Pada penyampaian gagasan ( 31 saran dari siswa perempuan dan 42 saran dari
siswa laki-laki), namun saran siswa laki-laki lebih sering diterima dari pada siswa
saran perempuan.
3. Siswa perempuan cenderung mengarahkan teman sebaya untuk tetap
menjalankan tugas. Sebaliknya, siswa laki-laki cenderung mengarah secara khusus
berfokus pada pengambilan keputusan terkait dengan tugas.
4. Pada pengamatan (93 pengamatan untuk siswa perempuan dan 55 pengamatan
untuk siswa laki-laki)
- Interaksi terkait gender
Adanya ketidakpuasan siswa perempuan dengan tanggung jawab yang dilimpahkan kepada
siswa perempuan oleh siswa laki-laki.
-Penerapan ilmu dalam kegiatan teknik
Fokus siswa pada kriteria desain teknik dan kendala dalam beberapa kasus mengalihkan
mereka dari penerapan pengetahuan konten sains dalam pengambilan keputusan.
Meskipun tantangan desain teknik tidak membutuhkan pengetahuan konten sains yang
luas, selama diskusi pelajaran desain teknik memang mengungkapkan beberapa
miskonsepsi siswa terkait sains. Oleh karena itu, guru juga harus menghadiri diskusi siswa
selama proses desain teknik untuk membantu memberikan instruksi berkelanjutan kepada
siswa tentang konsep sains.
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
Adanya keprihatinan dalam keterlibatan siswa perempuan dalam STEM. Dalam
penelitian ini menunjukkan bahwa siswa dapat mengalami konflik epistimologi ketika sains
dan teknologi terintegrasi. Dalam tantangan desain teknik menyebabkan frustrasi bagi
semua siswa dan siswa laki-laki mengambil alih aktivitas. Pada siswa perempuan mengalami
kesulitan dalam menerapkan praktik sains dan teknik secara fleksibel.
Adapun beberapa implikasi penting sebagai berikut:
1. Ada kebutuhan berkelanjutan untuk mempertimbangkan pengalaman awal siswa,
baik di dalam maupun di luar sekolah, untuk memastikan bahwa siswa perempuan
memiliki kesempatan untuk terlibat dalam praktik sains dan teknik