












Study with the several resources on Docsity
Earn points by helping other students or get them with a premium plan
Prepare for your exams
Study with the several resources on Docsity
Earn points to download
Earn points by helping other students or get them with a premium plan
The relationship between stress, strain, and deformation in the Earth's crust and mantle, focusing on the role of tectonic plates and geothermal processes. Topics include plate tectonics, hot spots, mantle convection, and the formation of oceans and continents. Key concepts include the mechanisms of plate movements, the role of heat transfer in shaping the Earth's surface, and the impact of plate interactions on seismic and volcanic activities.
Typology: Assignments
1 / 20
This page cannot be seen from the preview
Don't miss anything!













mekanisme focal gempa,
indikator geologi
Gaya yang bekerja pada litosfer pada kerak bagian bawah dan mantel bagian atas (Zoback and Townend, 2001) Hubungan stress dan strain yang menyebabkan deformasi (Lowrie, 2007) Beban di atas atau di dalam suatu litosfer menyebabkan pembelokan elastis dan menyebabkan stress yang cukup besar (beberapa ratus MPa) dan dapat mengganggu bidang stress regional (Zoback & zoback, 1991).
Contoh: Hawaii, Islandia, Yellowstone
Pada beberapa tempat di bumi ini terjadi proses vulkanik yang sangat aktif, dan berlangsung sudah sangat lama. Menurut beliau hal ini bisa terjadi jika di bawah sebuah lempeng tektonik ada sebuah area yang relatif ‘kecil’, sudah eksis dan bertahan lama, dan memiliki panas yang sagat tinggi- yang disebut hotspot. Rangkaian kep. Hawai yang terletak pada garis lurus adalah sebagai hasil dari pergerakan lempeng Pasifik di atas dari hotspot yang berada sangat dalam di mantel bumi. Lokasi hotspot ini relatif tetap.
150 – 200 km Kedalaman ± 40 km batas kontak kedua lempeng yang “terkunci” Bidang kontak zona subduksi dangkal = megathrust Dorongan terus menerus dari Lempeng Hindia menyebabkan akumulasi energi-potensial regangan berupa “buckling” (Chlieh et al ., in press )
Du Toit menerangkan arus konveksi sebagai mekanisme penyebab peregangan kerak benua yang mengasilkan sistem rift , sistem kompresi, dan pelipatan yang menghasilkan pegunungan lipatan
Holmes menyatakan bahwa kerak samudra yang semakin tua semakin berat akan menyusup ke bagian bawah kerak benua sehingga menyebabkan terbentuknya palung
Konveksi pada interior bumi hanya dapat berlangsung jika terdapat sumber panas yang cukup. Panas di dalam bumi mungkin dapat berasal dari dua sumber utama, yaitu dari peluruhan radioaktif dan panas residual.
Peluruhan radioaktif merupakan proses spontan yang terjadi ketika suatu isotop mengalami kehilangan partikel-partikel dari nukleusnya lalu membentuk isotop dari unsur yang lainnya. Peluruhan radioaktif secara alamiah terjadi pada unsur-unsur kimia seperti uranium, thorium, dan sebagainya dan akan melepaskan energi panas yang secara lambat bermigrasi ke permukaan bumi.
mantle convection
0
Pea-soup analogy
SUMATERA SESAR SEMANGKO PERTEMUAN LEMPENG LEMPENG INDO AUSTRALIA LEMPENG BENUA EURASIA 200 - 300KM Samudera Hindia
Holmes (1944) menyatakan bahwa lempeng samudra yang semakin tua akan mengalami pertambahan berat berat. Sehingga gerakan lempeng juga mungkin disebabkan oleh berat lempeng yang mendingin dan memadat yang turun ke mantel di palung samudera. Slab pull sendiri sangat mungkin menjadi salah satu gaya terbesar yang bekerja pada lempeng. Gerakan lempeng-lempeng dapat terjadi karena gabungan dari basal drag , slab suction , dan slab pull. Ketiganya juga dapat berperan untuk membentuk zona regangan di tengah lempeng yang memungkinkan terbentuknya terjadinya pemekaran.
Tahap 1: continental rifting dimulai, membentuk rift valley yang merupakan embrio samudra. Tahap 2: Tahap awal; terbentuk teluk sempit. Tahap 3: Tahap akhir, samudra luas dengan passive continental margin di kedua sisi. Tahap 4a: Penutupan samudra dimulai dengan pembentukan batas subduksi baru pada lempeng samudra. Tahap 4b: terbentuk busur kepulauan gunungapi di dekat batas subduksi. Tahap 5: Konvergensi busur kepulauan. Batas subduksi baru di dekat batas benua mengakibatkan busur kepulauan gunungapi bertumbukan dengan benua. Tahap 6: Konvergensi benua-benua menghasilkan pegunungan.