Auditory Systems and Balances, Lecture notes of Physiology

Explain the auditory system and balances

Typology: Lecture notes

2019/2020

Uploaded on 03/30/2020

unknown user
unknown user 🇮🇩

1 / 20

Toggle sidebar

This page cannot be seen from the preview

Don't miss anything!

bg1
2020
Sistem AUDITORI
DAN
KESEIMBANGAN
Psikologi Faal
Editor:
Raysha Agustini., S.Psi., M.Si
pf3
pf4
pf5
pf8
pf9
pfa
pfd
pfe
pff
pf12
pf13
pf14

Partial preview of the text

Download Auditory Systems and Balances and more Lecture notes Physiology in PDF only on Docsity!

2020 Sistem AUDITORI

DAN

KESEIMBANGAN

Psikologi Faal

Editor:

Raysha Agustini., S.Psi., M.Si

SISTEM AUDITORI DAN KESEIMBANGAN

A. Stimulus Pendengaran Manusia bisa mendengar karena adanya suara atau bunyi yang diterima oleh indera auditori, yaitu telinga. Suara sebagai stimulus berasal dari benda-benda yang bergetar baik dalam zat padat, cair, ataupun gas. Kemudian getaran benda menggetarkan partikel-partikel di udara sekitarnya. Lalu getaran yang terus menerus menimbulkan gelombang suara yang akhirnya sampai di telinga. Suara atau bunyi adalah vibrasi molekul-molekul udara yang menstimulasi sistem auditori. Fungsi sistem auditori adalah untuk mempresepsi bunyi. Manusia hanya bisa mendengar bunyi dengan vibrasi molekular antara 20-20.000 hertz (putaran perdetik).

Gelombang suara yang kompleks dapat diperinci secara matematis menjadi serangkaian gelombang murni dengan berbagai frekuensi dan amplitudo. Komponen-komponen gelombang murni tersebut menghasilkan bunyi asli bila disatukan. Hal ini dinamakan Fourier analysis. Beberapa bentuk persepsi dalam sistem auditori:

1. Telinga Luar ( Outer Ear ) Telinga luar terdiri dari: Daun telinga (aurikula), terbentuk oleh susunan tulang rawan yang memiliki bentuk khas dan berfungsi untuk memusatkan gelombang suara yang masuk ke saluran telinga. Saluran telinga luar (analis auditoris eksternal), dalam bagian ini terdapat kelenjar sudorifera yaitu kelenjar yang dapat menghasilkan serumen (bahan mirip lilin yang dapat mengeras). Serumen ini menjaga telinga agar tidak banyak kotoran dari luar yang masuk ke dalam, juga dapat menghindari masuknya serangga karena memiliki bau tidak sedap. Gendang telinga (membran timpani), bagian yang berfungsi untuk menangkap gelombang suara. 2. Telinga Tengah ( Middle Ear ) Telinga tengah merupakan rongga yang berisi udara dan menjaga tekanan udara tetap seimbang. Telinga bagian tengah terdiri atas 3 tulang pendengaran utama yaitu martil (maleus), landasan (incus), dan sanggurdi (stapes). Tulang–tulang ini dihubungkan oleh sendi dan saling berhubungan satu sama lain sehingga memungkinkan tulang–tulang ini dapat bergerak. Rangkaian 3 Tulang yang sedemikian rupa ini berfungsi untuk mengirimkan getaran yang diterima dari Membran Timpani pada telinga luar menuju ke Jendela Oval Telinga Dalam. Pada telinga bagian tengah terdapat Tuba Eustachius, yaitu bagian yang menghubungkan telinga dengan rongga mulut (faring). Tuba Eustachius Ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara antara telinga bagian luar dengan telinga bagian tengah. 3. Telinga Dalam ( Inner Ear ) Telinga Dalam terdiri atas bagian tulang dan bagian membran. Telinga dalam disebut juga sebagai labirin karena bentuknya. Labirin Tulang Telinga Dalam terbagi menjadi 3 yaitu: a. Koklea (Rumah Siput) Berbentuk seperti tabung bengkok kebelakang lalu berlilit mengelilingi tulang dan membentuk seperti kerucut di ujungnya. Koklea berfungsi sebagai reseptor karena memiliki sel-sel saraf di dalamnya.

b. Vestibuli, adalah bagian yang terdiri dari sakula dan utrikula. c. Kanalis Semisirkularis (Saluran Setengah Lingkaran) Merupakan saluran setengah lingkaran yang terdiri dari 3 saluran semisirkularis yang tersusun menjadi satu kesatuan dengan posisi yang berbeda.

Tabel 1. Bagian-bagian Telinga dan fungsinya Bagian Telinga Nama^

Keterangan (Fungsi dan Letak)

Telinga Luar ( Outer Ear )

Liang Telinga ( Ear Canal )

Untuk menyalurkan getaran suara menuju telinga bagian tengah.

Gendang Telinga ( Tympanum )

Menangkap getaran suara dari luar telinga. Pembatas antara telinga luar dan telinga tengah. Berbentuk tipis, lebarnya 10 mm. Sangat peka dan mudah sobek.

Telinga Tengah ( Middle Ear )

Osikel ( Ossicle ) Tulang-tulang Kecil pada Telinga Tengah

Tulang Martil ( Malleus )

Bersandar pada membrane tymphani. Berbentuk seperti martil yang menyusun tulang pendengaran. Berfungsi untuk menghantarkan getaran bunyi dari gendang telinga ke tulang landasan. Tulang Landasan ( Incus )

Tulang landasan berfungsi untuk menghantarkan getaran bunyi dari tulang martil menuju tulang sanggurdi.

Tulang Sanggurdi ( Stapes )

Merupakan tulang terkecil dan teringan. Berfungsi untuk menghubungkan incus dengan fenestra ovalis atau mengalirkan gelombang suara ke telinga dalam.

daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan foramen ovale. Energi getar yang telah diperkuat ini diteruskan ke stapes yang menggerakkan foramen ovale sehingga cairan perilimfe pada skala vestibuli bergerak. Getaran akibat getaran perilimfe diteruskan melalui membrane reissner yang mendorong endolimfe, sehingga terjadi gerak relative antara membran basilaris dan membrane tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39 - 40) di lobus temporalis. Pendengaran adalah persepsi saraf mengenai energi suara. Gelombang suara adalah getaran udara yang merambat dan terdiri dari daerah-daerah bertekanan tinggi karena kompresi (pemampatan) molekul-molekul udara yang berselang-seling dengan daerah-daerah bertekanan rendah karena penjarangan (rarefaction) molekul tersebut. Setiap alat yang mampu menghasilkan pola gangguan molekul udara seperti itu adalah sumber suara. Suatu contoh sederhana adalah garpu tala.

Konduksi stimulasi suara terdiri dari beberapa bagian yaitu sebgai berikut ini:

1. Konduksi Mekanis Reseptor-reseptor khusus untuk suara terletak di telinga dalam yang berisi cairan. Dengan demikian, gelombang suara hantaran udara harus disalurkan ke arah dan dipindahkan ke telinga dalam, dan dalam prosesnya melakukan kompensasi terhadap berkurangnya energi suara yang terjadi secara alamiah sewaktu gelombang suara berpindah dari udara ke air. Fungsi ini dilakukan oleh telinga luar dan telinga tengah. Daun telinga yang merupakan bagian dari telinga luar mengumpulkan gelombang suara dan menyalurkannya ke saluran telinga luar. Karena bentuknya, daun telinga secara parsial menahan gelombang suara yang mendekati telinga dari arah belakang dan, dengan demikian, membantu seseorang membedakan suara datang dari arah depan atau belakang. Telinga tengah memindahkan gerakan bergetar membran timpani ke cairan di telinga dalam. Pemindahan ini dipermudah oleh adanya rantai yang terdiri dari tiga tulang yang dapat bergerak atau osikula (maleus, inkus, dan stapes) yang berjalan melintasi telinga tengah. Ujung tangkai maleus melekat di bagian tengah membran timpani, dan tempat perlekatan ini secara konstan tertarik oleh muskulus tensor timpani, yang menyebabkan membran timpani tetap tegang. Keadaan ini menyebabkan getaran pada setiap bagian membran timpani dikirim ke tulang-tulang pendengaran, dan hal ini tidak terjadi bila membran tersebut longgar. Tulang-tulang pendengaran telinga tengah ditunjang oleh ligamen-ligamen sedemikian rupa sehingga gabungan maleus dan inkus bekerja sebagai pengungkit tunggal, dengan fulcrum yang terletak hampir pada perbatasan membran timpani. Ketika membran timpani bergetar sebagai respon terhadap gelombang suara, rantai tulang-tulang tersebut juga bergerak dengan frekuensi yang sama, memindahkan frekuensi gerakan tersebut dari membran timpani ke jendela oval. Artikulasi inkus dengan stapes menyebabkan stapes mendorong

stapes menyebabkan jendela oval menonjol ke dalam: (1) perubahan posisi jendela bundar dan (2) defleksi membran basilaris. Pada jalur pertama, gelombang tekanan mendorong perilimfe ke depan di kompartemen atas, kemudian mengelilingi helikotrema, dan ke kompartemen bawah, tempat gelombang menyebabkan jendela bundar menonjol ke luar ke dalam rongga telinga tengah untuk mengkompensasi peningkatan tekanan. Ketika stapes bergerak mundur dan menarik jendela oval ke luar ke arah telinga tengah, perilimfe mengalir dalam arah berlawanan, mengubah posisi jendela bundar ke arah dalam. Jalur ini tidak menyebabkan timbulnya persepsi suara; tetapi hanya menghamburkan tekanan. Gelombang tekanan frekuensi yang berkaitan dengan penerimaan suara mengambil “jalan pintas”. Gelombang tekanan di kompartemen atas dipindahkan melalui membran vestibularis yang tipis, ke dalam duktus koklearis, dan kemudian melalui membran basilaris ke kompartemen bawah, tempat gelombang tersebut menyebabkan jendela bundar menonjol ke luar-masuk bergantian. Perbedaan utama pada jalur ini adalah bahwa transmisi gelombang tekanan melalui membran basilaris menyebabkan membran ini bergerak ke atas dan ke bawah, atau bergetar, secara sinkron dengan gelombang tekanan. Karena organ Corti menumpang pada membran basilaris sel-sel rambut juga bergerak naik turun sewaktu membrane basilaris bergetar. Karena rambut- rambut dari sel reseptor terbenam di dalam membran tectorial yang kaku dan stasioner, rambut-rambut tersebut lalu membengkok ke depan dan belakang sewaktu membran basilaris menggeser posisinya terhadap membran tektorial. Perubahan bentuk mekanis rambut yang majumundur ini menyebabkan saluran-saluran ion gerbang mekanis di sel-sel rambut terbuka dan tertutup secara bergantian. Hal ini menyebabkan perubahan potensial depolarisasi dan hiperpolarisasi yang bergantian potensial reseptor dengan frekuensi yang sama dengan rangsangan suara semula.

3. Transduksi Sel-sel rambut adalah sel reseptor khusus yang berkomunikasi melalui sinaps kimiawi dengan ujung-ujung serat saraf aferen yang membentuk saraf auditorius (koklearis). Depolarisasi sel-sel rambut (sewaktu membran basilaris bergesar ke atas) meningkatkan kecepatan pengeluaran zat perantara mereka, yang menaikkan kecepatan potensial aksi di serat-serat aferen. Sebaliknya, kecepatan pembentukan potensial akasi bekurang ketika sel-sel rambut mengeluarkan sedikit zat perantara karena mengalami hiperpolarisasi (sewaktu membran basilaris bergerak ke bawah). Dengan demikian, telinga mengubah gelombang suara di udara menjadi gerakan- gerakan berosilasi membran basilaris yang membengkokkan pergerakan maju-mundur rambut-rambut di sel reseptor. Perubahan bentuk mekanis rambut-rambut tersebut menyebabkan pembukaan dan penutupan (secara bergantian) saluran di sel reseptor, yang menimbulkan perubahan potensial berjenjang di reseptor, sehingga mengakibatkan perubahan kecepatan pembentukan potensial aksi yang merambat ke otak. Dengan cara ini, gelombang suara di terjemahkan menjadi sinyal saraf yang dapat dipersepsikan oleh otak sebagai sensasi suara. 4. Transduksi Elektrik Timbulnya potensial aksi pada saraf auditorius lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis

D. Mekanisme Proses Pendengaran

  1. Masuknya Getaran dari Benda ke Telinga Telinga adalah organ tubuh yang menakjubkan. Indera pendengaran ini merupakan suatu proses yang mekanis. Telinga terbagi menjadi tiga bagian, yaitu telinga bagian luar, telinga bagian tengah, dan telinga bagian dalam.
  2. Alur Proses Pendengaran dapat Dijabarkan Bunyi terlebih dahulu harus melewati telinga luar sebelum akhirnya sampai pada telinga bagian dalam untuk kemudian diteruskan sinyalnya ke

E. Proses Penjalaran Bunyi

1. Transmisi Hawa ( Aerotymponal ) Getaran telinga melalui penghantar hawa. Berikut prosesnnya: Jalannya impuls sebagai berikut: sumber menggetarkan udara → daun telinga → meatus acusticus externus → menggetarkan membrana thympani → osicula auditiva → menggetarkan perilymphe → membran basalis bergetar → organon corti (reseptor pendengaran) bergetar → membrana tectoria → menstimulasi ujung rambut neuroepithel → nervus cochlearis → otak (lobus temporalis) → sadar bunyi. 2. Transmisi Tulang ( Craniotymponal ) Getaran telinga melalui penghantar tulang. Berikut prosesnnya: Jalannya impuls sebagai berikut: getaran sumber suara → menggetarkan tulang kepala → menggetarkan perilymphe pada skala vestibuli → skala tymphani → dan proses selanjutnya sama dengan penghataran melalui hawa.

F. Hubungan Fisiologis Pendengaran dan Aspek Psikologisnya Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara dan tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpanidan tingkap lonjong ( foramen ovale ). Energi getar yang telah diamplifikasi diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner yang mendorong

endolimfa, sehingga menimbulkan gerak relatif antara membran basillaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis. Kebisingan ( noise ) adalah bunyi yang ditimbulkan oleh gelombang suara dengan intensitas dan frekuensi yang tidak menentu. Di sektor industri, kebisingan berarti bunyi yang sangat menggangu dan menjengkelkan serta sangat membuang energi (Harrianto, 2010). Tiga aspek gelombang kebisingan yang perlu diperhatikan untuk terjadinya gangguan pendengaran yaitu frekuensi, intensitas dan waktu. Pajanan kebisingan menyebabkan berbagai gangguan terhadap tenaga kerja, seperti gangguan fisiologis, gangguan psikologis, gangguan komunikasi dan ketulian, atau ada yang menggolongkan gangguannya berupa gangguan pendengaran, misalnya gangguan terhadap pendengaran dan gangguan non pendengaran seperti komunikasi yang terganggu, ancaman bahaya keselamatan, menurunnya kemampuan kerja, kelelahan dan stres. Kebisingan yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang, yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual. Pada umumnya, bising bernada tinggi sangat mengganggu, apalagi bila terputus-putus atau datangnya tiba-tiba. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (mmHg), peningkatan nadi, konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. Pada umumnya, kebisingan bernada tinggi sangat mengganggu, apalagi bila terputus-putus atau datangnya tiba-tiba. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (mmHg), peningkatan nadi, konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi,

menggerakkan kepala Anda untuk menyentuh bahu anda, atau ketika melakukan jungkir balik.

Masing-masing kanalis semisirkularis berisi cairan endolimfe dan pada salah satu ujungnya yang membesar disebut ampula, berisi reseptor keseimbangan yang disebut krista ampularis. Masing-masing krista terdiri dari sel-sel bersilia dan sel- sel penyangga yang keseluruhannya ditutupi oleh suatu selaput yang disebut kupula. Karena kelembamannya, maka endolimfe yang terdapat di dalam kanalis semisirkularis bergerak ke arah yang berlawanan dengan arah putaran. Aliran endolimfe mendorong cupula melengkungkan silia-silia dari sel-sel rambut, dengan demikian maka sel bersilia tersebut terangsang dan mengubahnya menjadi impuls sensori yang untuk selanjutnya ditransmisikan ke pusat keseimbangan di otak. kanalis semisirkularis merupakan organ keseimbangan dinamis yaitu memberikan respons terhadap pemutaran tubuh.

H. Efek-efek Kerusakan Pada Sistem Pendengaran Studi tentang kelainan pada sistem auditori terjadi karena dua alasan. Pertama, studi yang memberikan informasi tentang bagaimana ssstem auditori bekerja. Kedua, studi yang dapat menjadi sumber informasi tentang berbagai penyebab dan penanganan terhadap ketulian klinis.

1. Implikasi Klinis Upaya untuk mengarakteristikan efek-efek kerusakan pada korteks auditori manusia berada didalam fisura lateral yang memiliki konsekuensi jarang terjadi kerusakan pada pada keseluruhannya; dan jika terjadi, selalu ada kerusakan ekstensif pada jaringan jaringan disekitarnya. Akibatnya, upaya untuk memahami efek kerusakan korteks auditori banyak menyadarkan diri pada pada studi tentang lesi yang ditempatkan melalui operasi pada subjek nonmanusia. Studi tentang efek-efek lesi korteks auditori mengakses efek-efek lesi besar yang melibatkan daerah inti (core region) , dan sebagian besar daerah belt dan parabelt. Dengan lesi berukuran besar dikebanyakan studi, tidak

adanya deficit permanen besar cukup mengenjutkan, yang menunjukan bahwa sirkuit-sirkuit subkiortikal menjalankan fungsi auditori yang lebih kompleks dan penting disbanding yang pernah diduga. Meskipun efek-efek lesi korteks auditori bergantung pada spesiesnya, efek-efek pada manusia dan monyet cukup mirip. Menyusul lesi bilateral, sering kali terdapat kehilangan pendengaran total, yang diduga merupakan akibat dari tejadinya syok pada lesi itu, karena pendengaran pulih kembali dalam waktu beberapa minggu kemudian.

2. Perfektif Evolusioner Efek permanen yang utama adalah kehilangan kemampuan untuk menemukan lokasi suara benda dalam kempuan untuk mendeskriminasikan frekuensi. Efek-efek lesi korteks auditori unilateral menunjukkan bahwa sistem tersebut sebagai sifat kontralateral. Suatu lesi unilateral mendistrupsi kemampuan untuk menemukan lokasi suara di ruang yang letaknya kontralateral, tetapi bukan ipsilateral terhadap lesi. Namun, defisit-defisit auditori unilateral cenderung hanya sedikit lebih besar untuk bunyi-bunyi kontralateral. 3. Tuli pada Manusia Tuli adalah salah satu disabilitas yang dialami manusia. Masalah- masalah pendengaran berat biasanya merupakan akibat kerusakan pada telinga dalam atau pada telinga tengah atau pada saraf-saraf yang berasal dari bagian tersebut, dan bukan akibat dari kerusakan yang lebih sentral. Ada dua golongan hendaya pendengaran yang lazim dijumpai: hendaya yang terkait dengan kerusakan pada osikel ( conductive deafness [tuli konduktif]) dan yang terkait dengan kerusakan pada koklea ( nerve deafness [tuli saraf]). Penyebab utama tuli saraf adalah hilangnya reseptor sel rambut. Bila hanya kokhlea yang rusak, individu-individu dapat mengalami tuli saraf untuk frekuensi-frekuensi tertentu tetapi tidak untuk yang lain. Hal ini merupakan karakteristik kehilangan pendengaran terkait umur. Kehilangan pendengaran terkait umur yang pertama berkembang berupa deficit yang spesifik yang memersepsi frekuensi tinggi. Hal tersebut

membuat penderita kerap mengarahkan kepalanya ke posisi tertentu, agar penglihatan tetap terfokus. Nistagmus biasanya terjadi di kedua mata, namun juga dapat terjadi hanya di satu mata. Kecepatan mata saat berputar juga bervariasi pada tiap penderita. Nistagmus terjadi ketika bagian otak atau telinga bagian dalam (labirin) yang mengatur pergerakan mata tidak berfungsi normal.

3. Tuli Tuli adalah ketidakmampuan manusia dalam mendengar. Tuli ini biasanya diakibatkan kerusakan pada telinga bagian dalam ataupun telinga tengah, bukan pada struktur otaknya. Penyebab tuli saraf adalah karena hilangnya reseptor-reseptor sel rambut. Seseorang yang tuli hanya memiliki sedikit pendengaran. Gangguan pendengaran dapat terjadi pada satu atau kedua telinga. Pada anak-anak, masalah pendengaran dapat memengaruhi kemampuan untuk belajar bahasa lisan dan pada orang dewasa dapat menimbulkan kesulitan dengan interaksi sosial. Pada beberapa orang, terutama orang tua, gangguan pendengaran dapat menyebabkan kesepian. Gangguan pendengaran bisa bersifat sementara atau permanen. Kehilangan pendengaran dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk: genetika, penuaan, paparan kebisingan, beberapa infeksi, komplikasi kelahiran, trauma pada telinga, dan obat-obatan atau racun tertentu. Kondisi umum yang menyebabkan gangguan pendengaran infeksi telinga kronis. Infeksi tertentu selama kehamilan, seperti cytomegalovirus , sifilis dan rubella , juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran pada anak. Diagnosis kehilangan pendengaran terdeteksi ketika tes pendengaran menunjukkan bahwa seseorang tidak dapat mendengar 25 desibel di setidaknya satu telinga. Gangguan pendengaran dapat dikategorikan sebagai ringan (25 hingga 40 dB), sedang (41 hingga 55 dB), sedangkan berat ( hingga 70 dB), parah (71 hingga 90 dB), atau mendalam (lebih besar dari 90 dB).

REFERENSI

Armelia, Indah. (2013). Fisiologi pendengaran. Diakses pada tanggal 19 Maret 2020. Carlson, N. R. (2008). Foundations of physichological psychology, New York: Pearson International Edition. Hapsari, Puspitawati & Suryaratri. (2017). Psikologi Faal. Bandung: Remaja Rosdakarya https://www.academia.edu/6097364/Fisiologi_Pendengaran?auto=downloa d https://www.dictio.id/t/bagaimana-anatomi-dan-fisiologi-telinga- manusia/ Pinel, John, P.J. (2009). Biopsikologi., edisi ketujuh. Yogyakarta: Pustaka pelajar. Pratama, Alister Galen. (2017). Bagaimana anatomi dan fisiologi telinga manusia. Diakses pada tanggal 19 Maret 2020. Puspitawati, Ira. (1999). Psikologi faal. Jakarta: Gunadharma.

Editor: Raysha Agustini, S.Psi., M.Si

Disusun Oleh :

Abdul Ghafur R Ananda Nabilla S Alya Windhi Putri Atika Nurya F Dara Shammya Aulia Rizki Indah Dienesza Reflin C Desy Wulandari Deviana Putri Farisa Zanira Hafidz Khadafi A Ilham Hidayatullah Raihan Nabila P Keke Sepitri P Mayadika Sukma N Siti Maryam Talisha Rahmi R Zalsa Romadhoni Titi Ameliana