





Study with the several resources on Docsity
Earn points by helping other students or get them with a premium plan
Prepare for your exams
Study with the several resources on Docsity
Earn points to download
Earn points by helping other students or get them with a premium plan
Explained the sensory system and the sensorimotor association cortex
Typology: Essays (university)
Uploaded on 03/30/2020
1 / 9
This page cannot be seen from the preview
Don't miss anything!






Disusun oleh: Kelompok 5
Sistem Sensori adalah proses mendeteksi keberadaan stimuli dari lingkungan luar melalui indra (Eksoreseptor).Pada manusia terdapat lima sistem eksoreseptor,yaitu sistem visual (penglihatan),sistem auditori (pendengaran),sistem somatosensory (perabaan),sistem olfactory (penciuman), dan sistem gustatory (pengecapan)
yang terletak di bagian frontal korteks: ke korteks asosiasi prefrontal dorsolateral, ke berbagai area korteks motorik sekunder, dan ke mata depan bidang yaitu area kecil korteks prafrontal yang mengontrol gerakan mata. Studi elektrofisiologi pada monyet kera (berekor pendek yang terdapat di Asia dan Afrika Utara dan gambaran resonansi magnetik fungsional (fMRI) dan stimulasi magnetik transkranial (TMS) studi pada manusia menunjukkan bahwa korteks parietal posterior berisi mosaik area kecil, masing-masing khusus untuk memandu gerakan mata, kepala, lengan, atau tangan. Gambar 8.2 Jalur input dan output kortikal utama dari korteks asosiasi parietal posterior. Menunjukan permukaan lateral dari belahan kiri dan permukaan medial dari belahan kanan. Aflalo dan rekan (2015) mencatat aktivitas populasi saraf dalam korteks parietal posterior dari orang tetraplegic (orang yang menderita kelumpuhan keempat anggota badan) menggunakan peragaan multi-elektroda besar. Mereka menemukan bahwa pasien dapat mengontrol aktivitas neuron dengan membayangkan tindakan tertentu. Komputer kemudian diatur untuk memecahkan kode pola neuron pada pasien ini menjadi citra motorik; pencitraan motorik tersebut termasuk
dalam tujuan imajinasi tertentu, termasuk lintasan imajinasi tertentu dari gerakan anggota badan, dan imajinasi dari berbagai jenis gerakan. Kerusakan pada korteks parietal posterior dapat menghasilkan beberapa kekurangan, yaitu kekurangan dalam persepsi dan memori dari hubungan spasial, menggenggam, mengendalikan gerakan mata, dan perhatian. Meskipun demikian, apraxia dan pengabaian kontralateral adalah dua konsekuensi paling mencolok dari kerusakan korteks parietal posterior. Apraxia adalah kelainan dari gerakan otomatis yang tidak disebabkan oleh kekurangan motorik (mis.,Tidak lumpuh atau lemah) atau kekurangan dalam pemahaman atau motivasi. Tetapi, pasien apraxic memiliki kesulitan membuat gerakan tertentu ketika diminta untuk melakukannya, terutama ketika gerakan tersebut di luar konteks; Bagaimanapun, mereka sering dapat melakukan gerakan yang sama di bawah kondisi alami ketika mereka sedang tidak memikirkan apa yang mereka lakukan. Misalnya, sebuah tukang kayu yang memiliki kelainan apraxic tidak memiliki kesulitan sama sekali ketika memalu sebuah paku selama ia tidak diminta untuk memperagakan gerakan memalu Terutama memperagakan kegiatan tersebut tanpa adanya sebuah palu. Walaupun gejalanya bilateral (memiliki 2 sisi), apraxia sering disebabkan oleh kerusakan unilateral (sepihak) pada korteks parietal posterior kiri atau koneksinya. Pengabaian kontralateral adalah konsekuensi mencolok lainnya dari kerusakan korteks parietal posterior. Kelalaian kontralateral yaitu gangguan kemampuan pasien untuk menanggapi rangsangan di sisi tubuh yang berlawanan (kontralateral) ke sisi lesi/luka otak tanpa adanya sensorik sederhana atau kekurangan motorik. Sebagian besar pasien dengan pengabaian kontralateral sering berperilaku seolah-olah sisi kiri dunia mereka tidak ada, dan mereka sering tidak bisa menyadari bahwa mereka memiliki masalah. Gangguan ini sering dikaitkan dengan lesi/luka besar pada korteks parietal posterior kanan, meskipun kerusakan pada daerah otak lain juga terlibat. Salah satu contoh kasusnya terjadi kepada Ny S. Yang menderita pengabaian kontralateral setelah stroke besar-besaran di bagian posterior belahan kanannya Setelah stroke, Mrs. S. tidak dapat menanggapi hal-hal yg berada di sebelah kirinya termasuk benda dan bagian dari tubuhnya sendiri. Misalnya, ia sering merias di sisi kanan wajahnya tetapi ia mengabaikan sisi kirinya.
mereka yang berada dalam korteks asosiasi prefrontal dorsolateral cenderung menembak lebih dulu. Sifat respons prefrontal dorsolateral neuron menunjukkan bahwa keputusan untuk memulai gerakan spontan dapat dibuat dalam bidang korteks ini, tetapi keputusan ini bergantung pada interaksi kritis dengan korteks parietal posterior dan area lain dari korteks frontal.