Technic writing summery, Cheat Sheet of Technical Writing

Technic writing summery fro school

Typology: Cheat Sheet

2024/2025

Uploaded on 08/23/2025

vitajustone-official
vitajustone-official ๐Ÿ‡บ๐Ÿ‡ธ

1 document

1 / 5

Toggle sidebar

This page cannot be seen from the preview

Don't miss anything!

bg1
Teknik Menulis Profil Lembaga1
Pendahuluan
Barangkali tidaklah terlalu sukar bagi kita memahami mengapa banyak individu
menulis biografi, terutama menjelang, katakanlah, pemilihan Bupati, Walikota, Gubernur,
hingga Presiden. Lewat biografi tersebut, kita tentu mengerti profil tokoh yang
diceritakan. Semakin banyak orang yang mengerti tentang profil tokoh itu, biasanya
semakin banyak pula orang yang paham. Kalau sudah banyak yang paham, maka
terbentuklah penggemar setia, fans. Dari penggemar setia inilah diharapkan datang suara
buat sang tokoh dalam pemilihan.
Sekiranya kita membaca biografi tokoh akhir-akhir ini, mungkin kita merasa geli.
Lalu kita tersenyum dikulum. Sebab, yang tampil dalam biografi tersebut adalah sisi baik
melulu. Seolah-olah tokoh yang diceritakan adalah malaikat. Kita pun ingin protes.
Tetapi, mau protes ke mana? Pada tingkat tertentu, bahkan kita malah ingin meluruskan
biografi tersebut. Namun, bagaimana caranya?
Biografi yang sudah beredar di masyarakat akan membentuk sebuah wacana.
Wacana ini tidak bisa dihapus begitu saja. Ia hanya bisa digantikan oleh wacana lain, yang
tentu saja merupakan wacana yang baru. Karena itu, yang harus dilakukan adalah,
berbagai wacana tentang seorang tokoh harus disampaikan kepada masyarakat. Dengan
demikian, terjadilah pertarungan wacana dalam masyarakat. Wacana yang menanglah
yang kelak pantas diikuti oleh masyarakat.
Profil lembaga, sebenarnya mirip dengan profil tokoh dalam biografi. Karena itu,
ia juga akan melahirkan wacana dalam masyarakat. Tetapi, ia tidak akan menjadi wacana
kalau profil lembaga tersebut berkisah tentang ihwal biasa-biasa saja. Ia tidak akan
membentuk wacana dalam masyarakat kalau profil lembaga itu merupakan ulangan cerita
profil lembaga yang dulu-dulu saja. Ia juga tidak akan melahirkan wacana bila profil
lembaga tersebut bercerita tentang tetek-bengek yang tak berguna. Pada titik inilah
1 Kuliah keempat.
pf3
pf4
pf5

Partial preview of the text

Download Technic writing summery and more Cheat Sheet Technical Writing in PDF only on Docsity!

Teknik Menulis Profil Lembaga^1 Pendahuluan Barangkali tidaklah terlalu sukar bagi kita memahami mengapa banyak individu menulis biografi, terutama menjelang, katakanlah, pemilihan Bupati, Walikota, Gubernur, hingga Presiden. Lewat biografi tersebut, kita tentu mengerti profil tokoh yang diceritakan. Semakin banyak orang yang mengerti tentang profil tokoh itu, biasanya semakin banyak pula orang yang paham. Kalau sudah banyak yang paham, maka terbentuklah penggemar setia, fans. Dari penggemar setia inilah diharapkan datang suara buat sang tokoh dalam pemilihan. Sekiranya kita membaca biografi tokoh akhir-akhir ini, mungkin kita merasa geli. Lalu kita tersenyum dikulum. Sebab, yang tampil dalam biografi tersebut adalah sisi baik melulu. Seolah-olah tokoh yang diceritakan adalah malaikat. Kita pun ingin protes. Tetapi, mau protes ke mana? Pada tingkat tertentu, bahkan kita malah ingin meluruskan biografi tersebut. Namun, bagaimana caranya? Biografi yang sudah beredar di masyarakat akan membentuk sebuah wacana. Wacana ini tidak bisa dihapus begitu saja. Ia hanya bisa digantikan oleh wacana lain, yang tentu saja merupakan wacana yang baru. Karena itu, yang harus dilakukan adalah, berbagai wacana tentang seorang tokoh harus disampaikan kepada masyarakat. Dengan demikian, terjadilah pertarungan wacana dalam masyarakat. Wacana yang menanglah yang kelak pantas diikuti oleh masyarakat. Profil lembaga, sebenarnya mirip dengan profil tokoh dalam biografi. Karena itu, ia juga akan melahirkan wacana dalam masyarakat. Tetapi, ia tidak akan menjadi wacana kalau profil lembaga tersebut berkisah tentang ihwal biasa-biasa saja. Ia tidak akan membentuk wacana dalam masyarakat kalau profil lembaga itu merupakan ulangan cerita profil lembaga yang dulu-dulu saja. Ia juga tidak akan melahirkan wacana bila profil lembaga tersebut bercerita tentang tetek-bengek yang tak berguna. Pada titik inilah (^1) Kuliah keempat.

muncul pertanyaan, bagaimana seharusnya menulis profil lembaga yang bisa melahirkan wacana yang dominan, yang pada gilirannya bisa melekat dalam pikiran masyarakat? Komponen profil lembaga Dalam profil lembaga, lembaga diperlakukan sebagai aktor. Ia menjadi pusat perhatian. Tempat dan waktu yang melingkupi lembaga merupakan konteks yang berfungsi ganda: sebagai latar belakang dan wadah lembaga. Sebagai latar belakang, ia merupakan rekonstruksi penulis. Tetapi, lembaganya sendiri harus berupa fakta, yang kendati pun direkonstruksikan penulis merupakan domain obyektif. Sesungguhnya lembaga dibangun oleh sosok, pengalaman dan ide. Sosok adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan fisik lembaga. Pengalaman merupakan perjalanan panjang yang dimiliki oleh sebuah lembaga. Ide merupakan pendapat, cita-cita, opsesi yang dimiliki oleh sebuah lembaga. Ketiga hal ini, ketika ditulis secara komprehensif, akan membentuk profil lembaga secara utuh. Bila ada profil yang mengutamakan sosok lembaga, maka profil itu akan menjurus pada usaha membesar-besarkan lembaga tersebut. Sebaliknya bila sosok lembaga tidak lengkap, maka profil itu tidak bercerita secara utuh tentang aspek fisik sebuah lembaga. Kerena itu dalam menulis profil sebuah lembaga, penulis harus bisa berbuat objektif. Tidak mudah merekonstruksikan perjalanan sebuah lembaga. Apalagi kalau perjalanan itu berliku dan sulit. Tapi, cerita tentang perjalanan itu akan memperkuat posisi profil lembaga. Karena itu, perjalanan lembaga harus ditulis dalam profil. Biasanya ide yang dimiliki oleh lembaga terkait dengan pemimpin lembaga itu. Tetapi, ide sang pemimpin ketika masih menjabat pimpinan adalah ide lembaga. Dengan kata lain ide lembaga bisa dilacak melalui pimpinannya atau melalui dokumentasi yang ditinggalkan oleh pimpinan. Kalau kita ingin menulis profil sebuah lembaga secara baik, maka sosok lembaga, pengalaman yang dimiliki lembaga, ide yang dipunyai lembaga harus disajikan secara seimbang. Keseimbangan ini malah menjadi syarat mutlak sebuah profil yang baik. Tanpa keseimbangan ketiga hal ini, profil lembaga tersebut menjadi terdistorsi. Syarat sosok lembaga

Gambaran yang meyakinkan tentang sosok lembaga juga dibangun oleh ide yang dimiliki oleh lembaga itu. Ide, bukanlah hanya produk pemikiran yang dituangkan melalui hasil pekerjaan, tetapi juga tentang cita-cita. Karena itu ide bisa digali dari siapa saja yang bekerja di lembaga itu. Hanya saja ide yang akan dimunculkan hendaklah memiliki syarat- syarat berikut : Pertama, magnitude. Magnitude di sini mirip dengan magnitude yang ada dalam sosok lembaga. Artinya, ide tersebut berkaitan dengan sesutu yang besar. Misalnya, cita- cita lembaga yang ingin menyehatkan seluruh penduduk di sebuah kabupaten. Atau keinginan lembaga yang ingin memberikan layanan kesehatan cuma-cuma untuk seluruh masyarakat yang ada disebuah kota. Kedua, berpengaruh. Dalam konteks ini berpengaruh berarti berkaitan erat dengan segala kebutuhan masyarakat banyak. Dengan adanya ide tersebut, masyarakat jadi tertolong. Kerena itu, penulis profil lembaga perlu mencari ide yang bisa membantu masyarakat menyelesaikan masalah mereka. Ketiga, penting. Penting, berarti berguna buat masyarakat. Karena adanya nilai penting dari ide ini maka masyarakat jadi mengerti tentang keberadaan lembaga yang diprofilkan. Apalagi kalau lembaga itu merupakan lembaga publik. Syarat pengalaman lembaga Ada hubungan antara pengalaman dan ide. Pengalaman terjadi karena adanya ide. Kerena itu dalam pengalaman juga tersirat ide. Bersamaan dengan itu, syarat pengalaman sama dengan syarat ide. Yaitu : pertama, magnitude. Disini magnitude berarti besar, baik dalam arti jumlah uang maupun jumlah orang yang terlibat. Kedua, berpengaruh. Dalam konteks ini berpengaruh berarti berkaitan erat dengan segala kebutuhan masyarakat banyak. Dengan adanya ide tersebut, masyarakat jadi tertolong. Kerena itu, penulis profil lembaga perlu mencari ide yang bisa membantu masyarakat menyelesaikan masalah mereka. Ketiga, penting. Di sini penting bukan hanya sekedar mengisahkan pengalaman yang berguna buat masyarakat, tetapi juga disertai dengan kemungkinan cara masyarakat mengambil manfaat. Bagaimanapun tidak semua orang bisa belajar dari pengalaman orang atau lembaga lain.

Penutup Semua cerita di atas merupakan rambu-rambu tentang penulisan profil. Tetapi, tulisan tentang profil itu sendiri tidak bisa dipenggal-penggal. Artinya, tidak bisa kita menulis bagian awal ide saja, bagian pertengahan sosok saja atau bagian akhir pengalaman saja. Semuanya tersaji dalam suatu cerita yang mengalir dan enak dibaca. Pada titik inilah diperlukan kejelian penulis untuk menjahit ketiga unsur profil menjadi sebuah cerita yang tidak mengesankan propaganda lembaga.